Menurut Leech (1993:19) aspek ujar dibagi atas lima bagian,
yaitu: (1) penutur dan lawan tutur; (2) konteks tuturan; (3) tindak tutur
sebagai bentuk tindakan; (4) tujuan tuturan; dan (5) tuturan sebagai produk
tindak verbal.
- Penutur dan Lawan Tutur
Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang
menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara
itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di
dalam pentuturan. Di dalam peristiwa tutur peran penutur dan mitra tutur
dilakukan secara silih berganti, yang semula berperan penutur pada tahap
tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian sebaliknya. Aspek-aspek
yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar
belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban,
dan sebagainya.
- Konteks Tuturan
Istilah konteks didefinisikan oleh Mey (dalam Nadar,
2009:3) sebagai situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta
pertuturan untuk dapat berinteraksi dan yang membuat ujaran mereka dapat
dipahami. Di dalam tata bahasa, konteks tuturan mencakup semua aspek fisik atau
latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresikan. Konteks yang
bersifat fisik, yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain, biasa disebut ko-teks.
Sementara itu, konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. Di dalam pragmatik
konteks itu berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh
penutur dan mitra tuturnya. Konteks ini berperan membantu mitra tutur di dalam
menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.
- Tindak Tutur sebagai Bentuk Tindakan
Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas
adalah bahwa tindak tutur itu merupakan tindakan juga. Jika tata bahasa
menangani unsur-unsur kebahasaan yang abstrak, seperti kalimat dalam studi
sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, pragmatik
berhubungan tindak verbal yang lebih konkret yang terjadi dalam situasi tertentu.
Tindak tutur sebagai suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit.
Hanya saja, bagian tubuh yang berperan berbeda. Pada tindakan mencubit
tanganlah yang berperan, sedangkan pada tindakan bertutur alat ucaplah yang
berperan.
- Tujuan Tuturan
Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur
dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen ini menjadikan hal yang
melatarbelakangi tuturan karena semua tuturan memiliki suatu tujuan. Dalam hal
ini bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud
yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan
tuturan yang sama. Bentuk-bentuk tuturan Pagi, selamat pagi,
dan met pagi dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama,
yakni menyapa lawan tutur yang ditemui pada pagi hari. Selain itu, Selamat
pagi dengan berbagai variasinya bila diucapkan dengan nada tertentu, dan
situasi yang berbeda-beda dapat juga digunakan untuk mengejek teman atau kolega
yang terlambat datang ke pertemuan, atau siswa yang terlambat masuk kelas, dan
sebagainya.
- Tuturan sebagai Produk Tindak Verbal
Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Tindakan
manusia itu dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal.
Berbicara atau bertutur itu adalah tindakan verbal. Karena tercipta melalui
tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tindak verbal
adalah tindak mengekpresikan kata-kata atau bahasa.
Leech, Geoffrey. 1983. Principle of Pragmatics. Terjemahan
ke dalam Bahasa Indonesia dilakukan oleh M.D.D. Oka. 1993. Prinsip-prinsip
Pragmatik.Jakarta: UI Press:London: Longman
0 komentar:
Posting Komentar